Imam Shamsi Ali tentang 10 Kompetensi Metodologi Dai dalam Dialog Antar Iman

Nama Shamsi Ali atau Imam Shamsi Ali mendapatkan perhatian dari komunitas Muslim di Amerika Serikat dan dunia pada momentum World Trade Center (WTC), 11 September 2001. Empat hari setelah kejadian tersebut, Imam Shamsi Ali terpilih sebagai salah satu dari dua tokoh perwakilan Muslim Amerika yang diminta untuk bertemu George W. Bush Jr. Pada kesempatan ini, ia menyarankan kepada Bush agar membuat pernyataan terbuka bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian dan tidak berkaitan dengan peledakan WTC. Sejak saat itu, namanya terkenal hingga sering di dapuk sebagai pembicara tentang Islam di tengah komunitas Barat.

Dai kelahiran Sulawesi Selatan ini dikenal dengan wawasan keislaman yang moderat. Ia sadar bahwa umat Islam harus sanggup bertahan di tengah tantangan stigma negatif, dimana Islam seringkali diidentikkan dengan tidakan kekerasan atas nama agama. Ia tidak minder menyatakan keislamannya dalam interaksi sosial di tengah masyarakat Amerika Serikat yang berpenduduk mayoritas non Muslim. Ia percaya, di tengah masyarakat dengan keagamaan majemuk, umat Islam harus terbuka kepada siapa saja. Dengan keyakinan ini, ia menjalin hubungan dengan pemuka-pemuka agama yang eksis di Amerika, termasuk dengan pemuka agama Yahudi. Dari interaksi tersebut, bersama Rabi Marc Schneier, Imam Shamsi Ali menulis buku berjudul Sons of Abraham: A Candid Conversation about the Issues that Devide and Unite Jews and Muslims. Buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Anak-Anak Ibrahim: Sebuah Percakapan Terbuka Mengenai Isu-Isu yang Memisahkan dan Menyatukan Umat Islam dan Umat Yahudi.

Menarik untuk menyimak bagaimana Imam Shamsi Ali, yang berlatar belakang dai, memilih untuk bersikap terbuka dalam mendialogkan keyakinannya dengan pemuka agama lain. Paling kurang, dalam konteks sosial umat Islam di Indonesia yang majemuk, menjalin dialog dengan pemeluk agama non Islam adalah hal yang sulit dihindari oleh pada dai.

Dalam salah satu kesempatan ketika berpidato, seperti yang dapat kita simak pada video di bawah tulisan ini, Imam Shamsi Ali membagikan pengalamannya berinteraksi dalam konteks dialog dengan komunitas non Muslim di Amerika. Selain mengemukakan argumentasi berdasarkan Alquran, konteks sejarah Nabi Muhammad saw., dan pertimbangan rasionalitas sosial, Imam Shamsi Ali memandang bahwa dialog lintas iman dapat dimanfaatkan oleh para dai untuk “membersihkan jalan dakwah”. Di sini, ia mencontohkan pengalamannya bersua, berinteraksi, hingga “membersihkan” pandangan Donald Trump yang negatif tentang umat Islam. Menurut Imam Shamsi Ali, sejak saat itu Trump tidak pernah mengelurkan pernyataan  tentang umat Islam hingga pada masa kampanyenya ketika maju sebagai calon Presiden AS. Bagian akhir pidato ini ditutup dengan paparan Imam Shamsi Ali  tentang sepuluh kompetensi metodologi dai dalam menjalin hubungan antar iman dengan pemeluk agama lainnya, antara lain:

1. Percaya diri. Bagi Imam Shamsi Ali, kepercayaan diri umat Islam merupakan faktor terpenting yang memiliki dasar di dalam doktrin ‘izzah. Allah swt. berfirman dalam Q.S. al-Munafiqun (63) ayat ke-8:

َوَ ِللهِ العِزَّةُ وِ لِرَسُوْلِهِ وَ لِلْمُؤْمِنِيْن

Menurut Imam Shamsi Ali, tanpa ‘izzah, seperti yang telah disinggung di awal tuilisan ini, ia tidak mungkin berani memberikan saran kepada George W. Bush agar memberikan pernyataan bahwa ajaran Islam tidak berkaitan dengan perilaku terorisme.

2. Pengetahuan dasar tentang ajaran Islam dan praktiknya. Jika dai tidak memiliki sesuatu di tanganmu, bagaimana kau bisa memberi? Ungkapan Arab:

ِفَاقِدُ الشَّيْئِ لَا يُعْطِيْه

Dalam konteks ini, Imam Shamsi Ali menyesalkan banyak umat Islam yang terlibat dalam dialog lintas iman tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang Islam bahkan tidak mempraktikkan ajaran Islam dalam kesehariannya.

3. Komunikasi. Imam Shamsi Ali secara langsung meminta para pemuka Islam untuk berhati-hati dalam berkomunikasi. Ia mencontohkan pengalamannya ketika diminta oleh Gereja Reformasi di AS untuk berdiskusi tentang Islam.

Ketika itu ia ditanya, “Bila kau tahu ada seorang gay dan ia ingin salat di masjidmu, apakah kau mengizinkannya?”

“Saya tidak berdiri di depan pintu dan bertanya, ‘Apakah kau gay atau tidak?” jawab Imam Shamsi Ali.

Pertanyaan berikutnya menyusul, “Bagaimana bila ia menyatakan statusnya sebagai gay dan ingin berdoa di masjidmu?”

“Tentu saja, siapapun disambut. Karena, hal itu mungkin salah, menurut pendapat saya, ada sejumlah dosa yang dilakukan oleh orang lain. Mereka selalu dipersilakan datang ke masjid untuk memohon ampunan dan pertobatan. Boleh jadi itulah jalan yang mengubah mereka,” ungkap Imam Shamsi Ali.

Kadang kala ada tujuan lain yang ingin dicapai oleh lawan dialog antar iman. Dalam kasus seperti yang ia contohkan di atas, bila seorang dai serta-merta menjawab tidak, maka penilaian yang akan muncul adalah bahwa umat Islam tidak menghormati kemerdekaan dan hak asasi manusia. Dalam konteks yang demikian, kemampuan komunikasi dai dalam dialog antar iman menjadi penting.

4. Jangan menghina. Imam Shamsi Ali menganjurkan kepada para dai agar menghindari semua bentuk penghinaan kepada orang yang lain, karena dialog antar iman bukan debat. Dalam dialog, kita selalu mencoba untuk saling menghormati. Ketika seorang dai berdialog dengan umat Kristen, misalnya, tidak perlu memulai dengan pernyataan yang mempertanyakan doktrin Trinitas Yesus. Sebaliknya, dai harus memberikan pernyataan hormat kepada Yesus yang tidak lain adalah Nabi Isa as., yaitu salah seorang nabi yang teragung dalam Islam (ul al-‘azm). Meskipun, di saat yang bersamaan, dai tersebut juga diharuskan menyatakan bahwa terdepat perbedaan interpretasi yang mendasar tentang Isa as. antara Islam dan Kristen: bahwa Islam tidak memposisikan Isa as. sebagai Tuhan atau selayaknya Tuhan.

5. Bahasa tubuh. Menurut Imam Shamsi Ali, senyum dan keramahan sangat penting dalam dialog antar iman, karena kedua sikap tersebut dapat memberikan perubahan positif bagi situasi dan kondisi dialog.

6. Berhati-hati dengan jebakan. Dialog antar iman, berdasarkan pengalaman Imam Shamsi Ali, terkadang licin. Di Amerika, ia mencontohkan, dai sering dihadapkan dengan pertanyaan yang membenturkan antara konstitusi dengan syariah dan mana yang memiliki status yang lebih tinggi. Dalam kasus seperti ini, Ali menganjurkan jawaban berikut:

“Kami tidak membandingkan antara kebaikan. Baik adalah baik. Kami tidak memandang konstitusi bertentangan dengan syariah, karena konstitusi berkaitan dengan kemerdekaan, keadilan, kesetaraan, tentang pencarian akan kebahagiaan. Dan semua itu ada di dalam Islam. Semua yang berkaitan dengan hal itu adalah syariah.”

7. Berperilaku positif. Ketika dai berdialog dengan non Muslim, ia harus tahu bahwa mereka juga memiliki sesuatu yang mereka tawarkan. Seringkali umat Islam bersikap tertutup terhadap semua kemungkinan baik yang diberikan oleh orang lain. Padahal, ada banyak kebaikan yang bisa mereka berikan untuk kita. Ini khususnya berlaku dalam isu-isu sosial. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari orang-orang Yahudi dan Kristen. Dari orang Yahudi, misalnya, umat Islam saat ini sedang menderita akibat islamophobia, dan kita bisa belajar dari orang Yahudi perihal bagaimana menghalau praduga-praduga negatif.

Ali menyinggung konteks sosial dan historis ketik orang Yahudi tiba di AS dan mengalami penderitaan yang lebih ketimbang umat Islam saat ini. Sekitar 20-30 tahun yang lalu, di dinding-dinding Kota Washington DC tertulis, “Tempat ini OK bagi siapa saja, kecuali anjing dan orang-orang Yahudi.”

Bahkan hari ini, orang-orang Yahudi masih mendapatkan penolakan dari mayoritas di AS. bagi Ali, kita bisa belajar, bagaimana mereka sanggup bertahan. Mereka membangun institusi-institusi besar, rumah ibadah, menggalakkan sumbangan wakaf, mendirikan universitas dan sekolah-sekolah terbaik. Hal-hal seperti ini yang perlu dipelajari oleh umat Islam dari mereka. Oleh sebab itu, ketika dai terlibat dalam dialog antar iman, Ali menganjurkan agar merekabersikap secara positif dan memikirkan sisi positif yang ditawarkan oleh umat non Muslim.  “Kita harus belajar saling belajar satu sama lain,” kata Imam Shamsi Ali.

8. Dialog berkaitan dengan kemanusiaan. Ketika dai berinteraksi dengan nilai-nilai kemanusiaan, ada empat persoalan yang mesti diperhatikan:

a. Fitrah. Tidak peduli apapun agamanya, manusia adalah fitri. Dengan kata lain, orang yang memiliki fitrah selalu mempunyai kesempatan untuk kembali kepada fitrah Allah swt. Jangan memperlakukan mitra dialog seolah-olah iblis. Ia adalah manusia yang memiliki fitrah dan dapat kembali kepada fitrah-Nya.

b. Harga diri manusia. Meskipun mitra dialog kita bukan Muslim, ia berhak mendapatkan rasa hormat.

c. Kemerdekaan manusia. Bukan karena seorang berstatus non Muslim lantas kita berhak merampas kemerdekaannya. Dai harus menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya, yang berkaitan dengan keyakinannya sembari memberi kesempatan kepada mitra dialognya untuk juga secara bebas menyampaikan pendapat.

d. Kesamaan derajat antar manusia.

9. Jujur. Terdapat sejumlah kekurangan di tengah umat Islam yang perlu diakui oleh dai. Tetapi dai juga harus mengetahui bagaimana menyampaikan sanggahan. Imam Shamsi Ali mencohtohkan, umat Islam dewasa ini lazim mendapatkan kritik dari sekelilingnya, seperti kritik bahwa Muslim tidak memberikan penghormatan yang pantas kepada perempuan.

Di ruang dialog, dai tidak perlu mengatakan, “Tidak. Itu tidak benar.” Dai sebaiknya bersikap jujur dengan menyatakan, “Ya, di beberapa tempat sebagian di antara umat Islam mempraktikkan ajarannya dengan cara yang salah. Tetapi, jangan lupa, kawanku, hal seperti ini juga terjadi di negara-negara non Muslim. Angka pemerkosaan tertinggi ada di India dan tidak ada seorang pun yang mengaitkannya dengan ajaran agama Hindu. Pernikahan dini di negara-negara hispanik, usai 12, 13, dan 14 terjadi di Karibia. Tidak ada yang menyebut bahwa mereka adalah penganut Katolik.”

10. Hidup dengan nilai-nilai keislaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *