Semangat Keberagaman Via Mengaji Daring

Mengaji secara langsung dalam jaringan pada Ramadhan tahun ini sangat riuh. Penetrasi teknologi canggih terhadap relasi sosial menguat. Para alim ulama pun memanfaatkannya. Sejak hari pertama hingga memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, mengaji daring menjadi penyejuk di tengah banyak kasus intoleransi dan caci maki di media sosial.

Palembang hadir… Bima menyimak…. Pasuruan sinyal putus-putus. Arab Saudi lancar…,” sapa para penyimak pengajian daring Kitab Ihya’ Ulumuddin yang diasuh cendekiawan Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar-Abdalla, setiap pukul 21.00-22.00 lewat live streaming di Facebook.

Setelah itu, berbagai komentar muncul untuk membahas isi pengajian, memperkuatnya, atau sekadar bertanya. Beberapa ulama dan cendekiawan juga turut menyimak, seperti Komaruddin Hidayat dan Abdul Moqsith Ghozali.

Jika Ulil memilih Ilya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj memilih tafsir Yasin dalam pengajian setiap hari pukul 06.00, juga melalui Facebook, langsung dari Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Materinya lebih ringan dan disampaikan dengan bahasa yang renyah sehingga sasarannya lebih luas, anak-anak hingga dewasa.

A Mustofa Bisri atau Gus Mus melalui akun Youtube, Gus Mus Channel, membaca dan mensyarahkan Kitab Bidayatul Hidayah karya Syaikh Imam Al-Ghozali saban hari pukul 20.00-22.00, langsung dari Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Televisi Muslim berbasis internet, Nutizen, menyiarkan secara langsung ratusan pengajian di 120 tempat (masjid, kampus, pesantren, rumah) selama Ramadhan melalui aplikasi di Play Store. Nutizen juga menyiarkan sejumlah pengajiannya lewat halaman Facebook.

Manajer Konten Nutizen Hamzah Sahal mengatakan, Nutizen ingin menjangkau pesantren dan para kiainya seluas-luasnya. Pengajian Kitab Arbain Nawawi, misalnya, diasuh oleh Ahmad Labib dari Pondok Pesantren An-Nashriyah, Brabo, Grobogan, Jawa Tengah. Adapun Kitab Tafsir Yasin Hamami diasuh oleh M Yusuf Chudlori, pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jateng.

Hingga lepas Nuzulul Quran, lalu memasuki 10 hari terakhir, pengajian masih riuh kendati terjadi penurunan jumlah penyimak. Kajian Ihya’ Ulumuddin menurun dan stabil di angka 250-300 penyimak meski di awal pernah mencapai hampir 1.000 penyimak. Tafsir Yasin masih berada di kisaran 500 penyimak.

Kajian Kitab Matsnawi Jalaluddin Rumi yang diasuh Kuswaidi Syafiie, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Yogyakarta, memang hanya diikuti beberapa orang. Maklum, mengajinya nekat pada pukul 01.30. Namun, setelah tersimpan di Facebook, pengajiannya diunduh hingga lebih dari 300 pengunduh. Hal sama terjadi pada pengajian Gus Mus, yang dilihat ribuan viewers di akun Youtube.

Mengarahkan

Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf melihat pengajian kitab-kitab yang spesifik pada Ramadhan ini sebagai ikhtiar para ulama untuk memberi arah yang lebih baik bagi pembicaraan agama di medsos.

Banyak kiai yang aktif di medsos merasakan pembicaraan agama yang makin chaotic di medsos dan merasa prihatin. Maka, kajian kitabnya pun spesifik, yang isinya menggalang kebersamaan, menebar kerendah-hatian, dan menyokong keberagaman.

“Dalam pembicaraan soal agama di medsos, biasanya tidak ada struktur topik diskusi yang jelas. Diskusi itu melibatkan partisipan-partisipan dengan spektrum tingkat pengetahuan yang sangat lebar sekaligus. Banyak pula diwarnai polarisasi politik. Masuk akal jika para ulama ingin memberi arah melalui jalan yang diyakini,” papar Yahya.

Ulil memilih Ihya’ Ulumuddin karena semangat keberagaman yang dibangun penulisnya, Imam Ghazali, sesuai dengan keprihatinan umat saat ini, yakni maraknya intoleransi, radikalisme agama, dan gejala konservatisme secara umum. Al-Ghazali melontarkan kritik yang menarik bahwa keyakinan yang kita warisi sejak kecil dan mengakar dalam diri kita bisa menjadi penghalang atau hijab untuk meraih kebenaran hakiki. Hijab keyakinan masa kecil itu banyak terlihat di kalangan para teolog yang biasanya berdebat untuk mempertahankan akidah, dan para fukaha atau ahli fikih/ hukum Islam yang fanatik pada mazhab tertentu.

“Ini kritik yang sangat keren. Al-Ghazali waktu muda juga suka berdebat dan mengalahkan lawan-lawannya dengan kecerdasannya yang mengagumkan. Namun, setelah tua dan menulis kitab Ihya’, Al-Ghazali merenung, debat itu tidak memuaskan mereka yang ingin meraih keyakinan secara kokoh (haqiqatul haqq). Keyakinan kokoh dan menenangkan jiwa hanya bisa diraih melalui jalan mistik, yaitu jalan pencari Tuhan,” papar Ulil.

Pada saat menulis Ihya’ Ulumuddin yang ditulis pada abad ke-11, Al-Ghazali menyaksikan gejala-gejala keagamaan populer yang agak mirip-mirip dengan kondisi kini. Gejala-gejala itu antara lain merebaknya fanatisme mazhab, pertengkaran internal di dalam tubuh umat Islam.

“Al-Ghazali menulis Ihya’ dalam situasi ‘twitwar’ atau perang di Twitter versi abad ke-11. Persis kita saat ini. Nada kitab ini mengajak kita untuk lebih menghakimi diri sendiri, otokritik, bukan menyalahkan orang lain. Saya ingin orang-orang memperkaya hatinya dengan asupan spiritual seperti ini,” kata Ulil, yang menyukai kitab Ihya’ melebihi kitab-kitab lain karya Al-Ghazali.

Alasan yang sama dikatakan Kuswaidi. Kitab Matsnawi sarat akan kesejukan dalam pencarian cinta yang hakiki. Maulana Rumi mengajarkan cinta dan bukan kebencian. “Kita akan jatuh hati kepada-Nya dan akan merasakan hambaryang lain. Andai masuk ke dalam cakrawala-Nya, ternyata yang disebut sebagai yang lain itu tidak pernah ada,” kata Kuswaidi.

Begitulah ketika pengajian kitab di bulan Ramadhan ini mampu tidak hanya menjadi penyejuk, tetapi juga wacana tanding obrolan agama yang sepotong-sepotong di medsos. Nutizen meniatkan diri untuk menyiarkan secara langsung pengajian di banyak tempat sebagai sebuah ikhtiar untuk syiar tradisi keilmuan pesantren yang komprehensif.

“Tentu ada kaitannya dengan upaya membendung radikalisasi kalau belajarnya tidak sepotong-sepotong,” katanya.

Kalau radikalisasi agama selalu membawa-bawa Al Quran, kitab-kitab itu penuh kutipan ayat berikut tafsirnya, apalagi kitab tentang tafsir itu sendiri, semisal tafsir Jalalain.

Katib Syuriah PBNU Abdul Ghofur Maimoen, putra kiai khos Mailoen Zubair dari Pondok Pesantren Sarang, Rembang, memilih Jalalain sebagai kajian Ramadhan. “Jalalain bisa dijelaskan dengan banyak cara dan tidak berat,” kata Ghofur.

Ramadhan ini memang terasa sejuk. Para penyimak tercerahkan, salah satunya pemilik pempek Beringin di Palembang, yang mengirim satu paket pempek untuk Ulil dan keluarga sebagai ucapan terima kasih. Maka, ketika Ulil akan menutup pengajian pada Jumat (16/6), para penyimaknya protes. “Kalau begitu, dilanjutkan setelah Lebaran, ya…,” kata seorang penyimak. (SUSI IVVATY)

 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Juni 2017, di halaman 5 dengan judul “Semangat Keberagaman Via Mengaji Daring”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *